Kali ini aku mau cerita yang saat ini sedang dialami...
Aku ga tau ini apa, yang jelas ada perasaan lain yang tumbuh. jadi dia
adalah rekan kerja, jujur sebenernya gada kepengenan aku sama sekali buat
ngerasain cinlok. Aku cerita mulai dari pertama kenal yaaa..
Awalnya aku ini memang guru baru, baru banget menapakkan kaki pada salah
satu sekolahan yang ada di kota Serang, waktu itu aku diminta untuk menjadi guru
pengganti, namun tanpa terduga hari pertama ke sekolah, hari itu juga aku mulai
diminta langsung masuk ke kelas untuk mengisi pelajaran. Dan di kelas itu juga
aku pertama bertemu dengannya, dia yang tiba-tiba masuk dan langsung
menyodorkan handphonenya untuk meminta nomor whatsapp aku, dan dengan positif
thinking tentunya akupun mengasih nomorku itu padanya, ya walaupun setelah itu
tidak ngaruh apa-apa juga dari niatnya yang katanya mau menggabungkan aku di
grup whatsapp kelas yang saat itu aku ajar. Tentunya hal itu disertai dengan
sorak ramai dari para siswa yang antusias melihat adegan tersebut dari aku dan
dia.
Dari setelah saat itu, berhubung semua orang di sana tahunya aku single,
jadi mulailah dijodoh-jodohkan dengan guru laki-laki yang single juga. Iya betul
itu dia, dan aku ga tertarik karena saat itu aku sudah mempunyai hubungan (pacar)
yang sudah berjalan 2 tahun.
Singkat cerita, karena aku masuk di semester 2 jadi bertepatan juga
dengan perpisahan kelas 6 yang mengadakan tour ke Jakarta, tentunya semua guru
ikut termasuk aku, dan juga dia. Tapi pada acara itu terjadilah sebuah insiden
dimana aku yang tiba-tiba duduk sebelahan dengan dia, tapi posisinya pacar aku
yang posisif tingkat dewa, mempunyai insting yang kuat dan boom! Masalah.
Dari kejadian itu aku dan pacar aku itu memang bertengkar hebat (panjang
ceritanya), dan semenjak saat itu kita jadi sensitif terhadap segala hal,
karena ada banyak juga suatu cerita lainnya yang akhirnya kami memutuskan hubungan pada
pertengahan juni , 1 bulan dari acara tour itu.
Setelah putus, di suatu kesempatan di rapat sekolah tanpa sadar aku
mendeklarasikan diri aku single. Dari situlah mulai di jodoh-jodohkan kembali,
awalnya aku menolak karena aku sudah baca karakter dia bagaimana, tapi rasanya setiap kali aku melihat dia, dia oke loh kenapa ga dicoba? (oke ini kesalahan saya)
Hingga kemudian aku diam-diam mencari tahu siapa dia, eh tapi ko rasanya
jadi kaya punya euforia yang berbeda setiap kali dekat dengan dia. Gatau kenapa
tapi bikin aku kaya jadi punya energi yang bikin aku semangat.
Hingga tibalah di acara persami tingkat kecamatan, dimana setiap guru ikut andil
dalam acara tersebut. Aku yang diminta ikut nginep nemenin anak-anak dengan
diberikan alasan yang tidak bisa ditolak karena aku masih single, ya pastinya dia juga sih. Habislah aku
diceng-cengin pada malam puncak dimana semua guru kumpul termasuk kepala
sekolah, kecuali dia. Aku gatau alasan dia ga ikut gabung itu kenapa, entah karena ada
aku, atau dia risih terhadap lontaran omongan orang mengenainya, ya walaupun
feeling aku juga begitu. Tapi, pas tengah malem ketika acara selesai, aku
bareng salah satu rekan guru perempuan berniat membersihkan diri ke toilet, setelah selesai kita berdua balik lagi ke tenda. Tapi kamu tahu apa? Diperjalanan menuju tenda, aku lihat dia di bawah pohon berdiri bareng seorang perempuan. Rasanya kecewa sih (sedikit) jadi omongan dia kala itu di kelas disaksikan oleh
salah satu guru senior di sekolah, apa yang dia ungkapkan adalah bohong. Tapi seharusnya
itu hal yang biasa terjadi dalam kehidupan laki-laki pada usia dewasa kan? Bahwa omongan
dan realitanya kebanyakan tidak sinkron. Lalu jika ditanya yg tidak sinkronnya sebelah
mana? Yaitu waktu dia bilang
'lagi ga deket dengan siapa-siapa, dan ga lagi ngejalanin hubungan juga dengan siapa-siapa'
'bahwa hidup itu isinya bukan cuma cinta-cintaan
dan galau masalah percintaan' ditambah
'ga harus cantik, tapi dia yang mau nerima apa adanya'
Tapi yaudahlah ya, harusnya kan hati aku aman-aman aja kan? Karena kan aku cuma
korban dijodoh-jodohkan saja. Tapi sayangnya aku kepo orangnya, ga bisa diem aja tanpa
nyari tahu dia siapa dan bagaimana, akhirnya aku berdoa pada Tuhan agar aku diperkenalkan dengan dia, dan kalaupun kata Tuhan bukan dia orang yg terbaik buat aku, ya
gapapa juga.
17 Agustus aku gagal, sumpah pemuda, acara renang perkelas, hari pahlawan, sampai hari guru hampir
berhasil namun hanya sebatas bisa saling tegur dan sapa, pembagian rapor, sampai
rapat akhir tahun di anyer yang dimana dia ga bisa ikut, rasanya aku kecewa saat itu, tapi
back again, aku siapa? Hingga masuk di semester 2 yang disibukkan dengan
olimpiade, barulah dikasih kesempatan sama Tuhan buat bisa mulai berinteraksi
sama dia, ngobrol, becanda, bahkan boncengan, aku juga tahu gimana kecewanya dia
yang udah berjuang latih anak-anak namun
belum diberikan kesempatan untuk bisa membawa piala, dan mulai dari situ jugalah aku tahu
karakter dia bagaimana?
Dari saat itu, pergerakan kita mulai terlihat, mulai dari boncengan pas ada
cara makan bareng di luar, hingga yg ga ekspek sama sekali adalah kita mulai
aktif untuk berbalas chat di bulan ramadhan, bahkan telepon, vidio call, sama
sekali di luar nalar aku. Walaupun emang karena ulah aku yang cukup gila sih
ngetreat dia. Aku cuma ga suka omongan dia yang bilang kalau dia itu buaya, dan aku tertantang, jadi sampai sejauh mana
hati kamu ga jatuh?
Hingga akibat suatu obrolan di malam ini yang ngebikin aku masih ga habis pikir dengan pikirannya, mengenai kalimat yang dia lontarkan ke aku, and we will return to the early days we knew. Ini membuat aku broke sih.
Ya walaupun, aku emang sudah tahu kaya gimana pada akhirnya, karena ini ibarat sebuah
game kalau ga winner ya loser.
Komentar
Posting Komentar