~22 Desember 2025~
Bagaimana kalau ternyata aku menyimpan lukanya sendiri?
Tidak ada suatu hubungan yang berjalan dengan mulus tanpa hambatan dan rintangan. Betul.
Tapi yang harus diingat bahwa sepakat untuk menjalani hubungan atau sepakat untuk komitmen artinya sepakat juga untuk setiap peraturan tidak tertulis yang diciptakan dari 2 belah pihak.
Lantas bagaimana untuk hubungan yang di dalamnya mulai hilang rasa percaya? tanpa komunikasi yang baik, tanpa temu yang romantis, tanpa sapaan, tanpa empati, ini masih disebut sehat?
Aku sangat sangat bahagia, waktu pada akhirnya bisa dekat dengannya, merasa mimpi bisa jalan berdua dengannya, meski jujur aku takut, takut dengan segala keterbatasan dari apa yang aku lihat darinya. Bukan, bukan karena aku merasa sempurna dan lebih baik, justru karena aku juga kaya akan segala bentuk kekurangan. jadi, lebih ke takut tidak bisa saling melengkapi.
Rasanya seperti mimpi bisa jalan berdua, berboncengan menempuh jarak 6 jam perjalanan dengannya, aku cemas kala itu, khawatir, dan segala hal yang membuat sikap dinginnya itu tiba-tiba berbeda.
Disana dia mengungkapkan perasaannya, meski awakward seperti tidak ada keseriusan, jujur aku seneng. Tapi aku bingung, rasanya asli atau palsu?
and i say "yes, i do"
Ternyata aku terlalu naif kala itu, karena sejujurnya aku bingung dengan diriku sendiri sampai detik itu, hati kecil selalu bertanya apakah dia benar-benar mencintaiku?
Hingga kemudian ada masa kita renggang, aku sangat sangat merasa terpukul melihatnya menangis, sungguh hati aku percaya bahwa dia orang yang tulus. Meski mungkin dia masih menyimpan rasa kecewanya itu atas tindakan dari rasa sulit percaya aku ke orang lain, tapi setelah itu ada masa dimana kita benar-benar diberi kesempatan untuk deeptalk yang membuat aku nangis kejer kala itu, aku ga percaya, masih bener-bener ga percaya ada orang yang bisa nganggep aku penting dikehidupannya, saat itu aku pikir aku mulai jatuh, jatuh segala-galanya termasuk mungkin harga diri aku.
Cinta yang aku miliki memang membutakan segalanya. Dan saat itu aku percaya bahwa dia memang pilihan Tuhan untuk aku? Aku bangga punya dia. Aku sayang banget banget sama dia.
Dengan segala kurang yang sangat banyak yang aku miliki, dia bilang 'aku ga akan permasalahkan itu'
Tapi...
3 bulan berjalan, semuanya surut, yang aku rasakan termasuk rasa cinta dia juga mulai surut.
Aku mulai overthinking, mulai ga bisa control emosi, tanpa sadar malah menjadi sekat dan membuat dia jadi ga nyaman dengan aku.
Saat itu aku rasa omongannya hanya bualan belaka, kekurangan aku yang mana lagi yang tidak akan dia tolak?
Dengan lantang dia bilang:
INTROPEKSI DIRI LILIS, KAMU PIKIR KESALAHAN KAMU.
JANGAN MAUNYA DIMENGERTI TAPI KAMU GA TAU CARANYA BUAT NGERTIIN ORANG LAIN.
EMANGNYA SELAMA INI KAMU NGASIH PERHATIAN APA?
JANGAN MAUNYA DIKABARIN AJA, MASA HARUS 24 JAM NGABARIN KAMU.
BISA GA KALAU ADA ORANG LAGI TIDUR ITU GA USAH DIBANGUNIN BIKIN SAKIT KEPALA. KALAU MAU PULANG, PULANG AJA SANA.
GAUSAH MINTA DI TREETMENT-TREETMENT, INI BUKAN SINETRON, KALAU MAU LAKI-LAKI YANG SEMPURNA PACARAN AJA SANA SAMA ARTIS DI SINETRON.
Iya, memang hanya kata-kata, tapi bagi aku yang perasa, itu cukup menggores. Mungkin bagi dia komunikasi setiap hari adalah hal kecil yang ga seharusnya dipermasalahkan, tapi bagi aku komunikasi, apersepsi, apresiasi, dan bagaimana cara kita memperlakukan pasangan itu sangat penting dan berarti bagi aku, terutama bagi mental aku.
sampai aku mikir, aku ga bisa ya buat orang lain cukup punya aku, bangga punya aku, aku ga pantes ya diperlakukan sebagai pasangan dengan baik? apa dia malu punya aku? aku jelek ya? aku ga bikin dia bangga ya punya aku?
"Nak, cinta itu manisnya hanya diawal, jangan percaya" tiba-tiba kata-kata ini muncul dibenak aku.
Selalu jadi pemenuh di kepala, kenapa begini? Salah apa? Harus bagaimana? Harus seberapa sabar?
Apa aku yang terlalu cinta sendirian?
Kenapa makin kesini makin kasar ngomongnya?
Kenapa makin kesini makin cuek?
Kenapa makin kesini makin dingin?
Kenapa makin kesini makin gampang marah?
Kenapa makin kesini makin merasa asing dihidupnya?
Aku bukan Tuhan yang bisa mengubah sikap orang lain, dibalik aku yang sekali lagi aku pertegas "banyak ga bisa apa-apanya" ini, mungkin bagi kamu kehilangan aku ga ngaruh apapun kan di hidup kamu?
Aku gatau ke depannya bakal seperti apa.
Aku memang berusaha banget buat sabar, meski kadang sering banget air mata jatuh sebelum tidur, meskipun aku suka marah dan tantrum aku paling ga kuat kalau dibentak-bentak🥹
Asal kamu tahu aku bingung ngadepin kamu, ditanya suka ga jawab, malah suruh aku ngerti sendiri, pas ga ngerti-ngerti malah di silent treetment berbulan-bulan.
Pas aku yang selalu cerita buat dimengerti, bilangnya "ga usah cerita juga saya udah paham lis maunya kamu apa?" Tapi tetep silent treetment.
Apa kita berdua terlalu naif ya, inginnya dicintai dengan hebat tapi enggan untuk mencintai dengan hebat?
Dan setelah berbulan-bulan masalahnya cuma karena "uang".
aku ga pernah masalahin kurangnya kamu termasuk tentang finansial kamu, aku bahkan mau terima kamu sampai pada posisi terberat di hidup kamu, tapi cara kamu menyikapi yang bikin aku ga tahan, banyak hal yang aku ga suka tapi aku maklumin semuanya, aku selalu terus menurus mencoba maklumin, tanpa pernah kamu tanya, bahkan untuk mendengarkan pun sering terabaikan. jangankan tanya kamu lagi kenapa? kamu baik-baik aja?
sekali lagi, aku ga punya kehendak untuk mengubah sikap orang lain, mungkin memang dari awal kita emang saling tolak menolak dengan segala hal, tapi mencoba untuk memaksakannya.
kalau nanti aku pergi, bukan karena ingin berakhir, tapi ada hal yang ga bisa aku paksain, dan ga bisa untuk saling memperjuangkan.
dan sekarang
aku ga mau jadi apa-apa lagi.
aku pengen istirahat.
aku pengen egois, tapi aku ga mau jadi egois.
harusnya pas waktu itu aku gausah bingung buat bilang ngga, karena aku tau ke depannya kaya gimana, tapi aku malah bilang iya hanya karena berlandaskan perasaan yang aku pikir bisa aku perjuangkan.
Tapi, sekarang aku pengen banget cuma mencintai diri aku.
kita masing-masing aja ya...
aku harusnya udah tau jawabanya dari awal sampai saat ini, sebenernya kamu belum siap.
Atas diri kamu sendiri, apalagi untuk bisa tanggung jawab atas hidup orang lain.
Sejak awal memang aku yg punya perasaan ke kamu, aku yang mau untuk nerima kamu, dan asal kamu tau, aku mau jalanin bareng sama kamu karena waktu itu aku yakin ada masa depan dengan kamu, karena kamu seyakin itu akan nikahi aku di tahun itu, tapi kamu tau kenapa aku menyerah?
Omongan kamu udah mulai ga sinkron lagi, janji janji kamu terkehendaki untuk tidak bisa dibayar, lantas hal apa yg bisa bikin aku tetap percaya?
Aku sayang sama kamu, aku ga mau kamu kenapa2, aku selalu khawatir dengan apa yg sedang meninmpa kamu, selalu ga tega buat ga ngulurin tangan, aku bahkan sampe ga mikirin kesehatan diri aku sendiri.
Tapi respon kamu apa?
Yaudahlah, kali ini aku mau istirahat.
Kamu punya masalah, aku juga punya masalah, kita selesaikan aja masalah kita masing-masing.
Kamu bebas hidup dengan diri kamu, tanpa perlu ada yang nuntut apapun ke kamu, tanpa perlu ada rasa ga enak hati karena aku. kamu bebas sekarang.
Takdir memang bukan milik kita, tapi kalau kita mau kita bisa minta dan berusaha keras buat mendapatkannya.
Semoga kelak kamu paham, aku ga mau menang, aku cuma mau rasa nyaman dan aman. Aku mau tenang🙏🏻
Aku ngetik sambil nangis banget ga kuat.
Komentar
Posting Komentar