Datang untuk Pergi

Kisahku…..

berawal dari canda yang menjadi candu untuk bertemu dan menjadi rindu saat sama-sama jauh. Sayangnya mengenai rasa terkadang keseriusan kita sering kali menjadi candaan baginya, dan candaan kita malah di respon serius olehnya.

Wanita selalu lemah soal rasa, tapi aku tidak mau terlihat lemah hanya karena aku wanita, walau pada kenyataannya seperti itu.

Perihal menyukai itu mudah, yang tidak mudah adalah menyatukan perasaan yang sama-sama menyukai. Banyak yang kita temui di dunia ini, banyak pula yang kita sukai, tapi bukan berarti semuanya bisa kita miliki kan?

Bukankah sebuah rasa tidak cukup sekedar diucap dari mulut, bahkan yang telah membuktikannya pun bisa berubah, bisa berganti, dan mungkin bisa hilang kapan saja.

Banyak yang menyerah soal waktu, dan lelah untuk terus meyakinkan. Tapi tak apa, aku hanya manusia dengan segudang kekurangan. Jika dia pergi karena tidak memilihku, itu lebih baik dari pada harus mempertahankan namun terus tersakiti.

Entah rasanya lelah berharap pada setiap kali yang datang, semuanya hampir sama, memuji untuk memaki. Menyukai untuk membenci. Dan datang untuk pergi.

Dari semua itu kerap kali menimbulkan rasa takut, takut akan dijadikan permainan baginya, atau ironisnya justru aku yang dianggap telah mempermainkan. 

Padahal yang kerap diinginkan oleh seorang wanita di umurnya yang sudah dikatakan bukan remaja lagi, mereka tidak hanya sekedar membutuhkan kekasih hati, melainkan seorang teman hidup yang bertanggung jawab yang mampuh membimbing dan menyayangi hingga tutup usia.

Komentar