Sebuah Kisah

Ini adalah sebuah kisah tentang seseorang yang pernah hadir, dan banyak mengajarkan aku tentang segala hal dalam hidup.

Dulu aku menyebutnya dengan ‘sahabat’ tapi sekarang entah kata itu sudah berubah atau masih tetap begitu?

 

Jujur aku bingung menjelaskan kisah ini dari mana, bahkan aku lupa bagaimana first impression aku mengenalnya. Tapi aku akan berusaha menceritakan kisah ini, mungkin terlihat tidak penting, but it's okay.

Dulu mengenalnya karena kita satu sekolah dan satu kelas. Dia si kecil bermuka pucat yang kelihatannya pendiam dan setiap pulang sekolah ibunya selalu tidak pernah absen menjemputnya.

Aku benar-benar minta maaf dulu pernah melihat kehidupannya dengan sebelah mata. Rasanya pikiranku tak habis untuk bertanya yang aku tahu tidak akan pernah kutanyakan padanya.

Tapi ternyata dia memiliki otak yang berlian, sama sekali tidak pernah aku sangka, sifatnya yang rajin, ambisius dan disiplin membuatnya berhasil dikenal sebagai siswa berprestasi. Sungguh Tuhan maha adil atas segala hal yang diciptakan-Nya.

Aku tak pernah meminta atau berusaha untuk menjadi dekat dengannya saat itu. Tapi tanpa aku sadari selama di sekolah cukup banyak waktunya untuk membantuku perihal pelajaran sekolah. Dan mungkin kisahku di sekolah sebagian besar dia telah mengetahuinya juga. Dia merupakan orang yang cukup sabar menghadapi manusia awkward sepertiku, entah karena dia yang memang terlalu pasrah atau bagaimana yang rela aku pukul-pukul setiap kali aku sedih dan kesal.

3 tahun sekelas, dan selama itu aku terlalu sering merepotkan dia tentang tugas-tugas sekolah dan apapun itu yang mungkin tidak bisa aku ingat. Sampai ketika saat PKL pun bisa-bisanya Tuhan menakdirkan aku untuk 1 tempat PKL dengannya. Dengan segala perlakuan yang dia berikan, aku menganggapnya sebagai saudara.

Sampai akhirnya kita sama-sama lulus sekolah kemudian berlanjut dengan kerja, dan kita masih menjaga tali silaturahmi dengan baik. Dari hasil kerjanya itu, tak jarang dia memberikanku ini itu. Hingga detik itu pun aku masih berfikir dia memang benar-benar baik layaknya saudaraku sendiri.

Selama itu dan dengan semua cara dia menyikapi aku, apa mungkin perasaan tidak ikut serta di dalamnya?

Hingga kemudian 1 tahun semenjak kita lulus dari sekolah, dia berani mengungkapkan perasaannya yang tidak pernah terpikir olehku sama sekali.

Saat itu segala bentuk kecewa itu ada, segala bentuk penolakan kerap memenuhi otakku. Rasanya entah kenapa hati aku sakit, kenapa Tuhan selalu mengikutsertakan perasaan untuk hadir diantara persahabatan dua lawan jenis?

Aku mulai sadar ternyata kata-kata itu benar-benar sangat relate dalam hidup.

Dari peristiwa itu aku mencoba untuk menjauhinya, membiarkan dia untuk membunuh perasaannya. Aku tidak tahu apakah itu benar atau salah?

Kemudian setelah kurang lebih 1 tahun kita lost contact akhirnya dia kembali menghubungiku lagi lewat akun media sosial.

Kami kembali berkomunikasi lagi, dan aku rasa dia kelihatan mengatur dirinya untuk bersikap selayaknya tidak pernah terjadi apapun di antara kita.

2 tahun berjalan setelah saat itu, pelan-pelan dia mulai membawaku kepada obrolan yang mengarah ke masa depan. Tentang segala planning yang dia ciptakan sama sekali membuatku tidak berhak untuk aku menolaknya.

Jika perasaan bisa diatur, aku ingin untuk belajar membuka hati untuknya.

Karena aku sadar aku ini siapa? Aku tidak seistimewa itu hingga membuat seseorang susah payah mendapatkan aku.

Dan jika perasaan bisa diatur, aku ikhlas untuk mengikuti garis tangan Tuhan tentang hal ini.

Tapi kenapa saat hatiku mulai percaya, semuanya terenggut oleh waktu, semuanya hilang oleh keadaan.

Kali ini aku patah oleh ekspektasiku sendiri. Bahkan semua ini membuat ketakutanku di masa lalu kembali hadir. Aku sudah terlalu cukup merasakan masa lalu yang buruk, cukup di masa lalu. Aku tidak ingin semuanya terulang dan membuat hatiku terus-terusan patah.

Perihal menemani dari nol, kemudian ketika dia telah naik ke atas dengan mudahnya dia berpaling.

Semua itu hanya membuat aku berpikir setidak layak itukah aku untuk dipertahankan?

Tentang kisah ini biarkan cukup Tuhan yang tahu dan biarkan Tuhan yang menjawabnya dalam keadaan yang paling baik.

Komentar