Bumi dan Langit

Seolah hanya aku yang mau, bukan karena hanya aku yang benar-benar kamu mau.

Berbicara soal menunggu, bersabar dan menjaga hati, sadar ataupun tidak, aku sudah melakukan semua itu sedari dulu, sebelum memutuskan untuk mengambil pendidikan hingga saat ini aku sudah berhasil menyelesaikannya. Tapi yang selalu menjadi pertanyaan, siapa yang membuat aku menunggu? Siapa yang memberi kepastian untuk itu? It's not there:)

Ternyata selama ini aku menunggu seseorang yang tidak ingin untuk ditunggu, atau mungkin seseorang itu hanya tercipta dalam hayalan belaka.

Aku fikir aku telah bahagia menjadi seseorang yang "hanya aku yang benar-benar kamu mau" seperti yang diharapan, tapi lagi-lagi aku lupa harapan tidak selalu kita dapatkan.

Meski tidak pernah berharap kamu orangnya, tapi kenapa perasaanku harus sekacau ini?

Aku hanya tidak ingin dijadikan pilihan kesekian diantara pilihan-pilihan lainnya, yang membuat aku terkesampingkan dan justru bukan aku tujuan akhirnya.

Tapi setelah memandangi diri, aku paham aku bukan apa-apa, dan kamu telah menjadi segalanya. Aku sadar bersama bukan berarti ingin, dan ingin bukan tentang siapa yang bersama. Tapi jika sudah ingin selalu ada rela di dalamnya untuk bisa bersama, sama-sama berjuang hingga tumbuh dan berkembang menjadi lebih baik.

Mungkin memang bukan kamu orangnya, I don't know and it's really hard to explain.

Komentar